<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kembang Kilaras</title>
	<atom:link href="http://muhids.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muhids.wordpress.com</link>
	<description>SEBUAH NARASI, OPINI DAN RENUNGAN</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Mar 2011 08:25:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='muhids.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/b5f004bcfc7d9034e790522167832615?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Kembang Kilaras</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://muhids.wordpress.com/osd.xml" title="Kembang Kilaras" />
	<atom:link rel='hub' href='http://muhids.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Soeharto Mati Muda</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com/2010/09/26/soeharto-mati-muda/</link>
		<comments>http://muhids.wordpress.com/2010/09/26/soeharto-mati-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Sep 2010 00:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MUHID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhids.wordpress.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Dalam salah satu situs pertemanan saya pernah menulis bahwa tutup mulut dan tutup mata adalah solusi terbaik bagi kita saat ini dalam menyikapi kondisi kehidupan dan segala persoalan yang menyelimutinya. Sebuah refleksi rasa muak saya pada kelakuan pejabat dan elit politik yang cenderung korup dan memikirkan kesejahteraan hanya untuk pribadi mereka saja. Seorang kawan akrab [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=473&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhids.files.wordpress.com/2010/09/index.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-482" title="index" src="http://muhids.files.wordpress.com/2010/09/index.jpg?w=510" alt=""   /></a>Dalam salah satu situs pertemanan saya pernah menulis bahwa tutup mulut dan tutup mata adalah solusi terbaik bagi kita saat ini dalam menyikapi kondisi kehidupan dan segala persoalan yang menyelimutinya. Sebuah refleksi rasa muak saya pada kelakuan pejabat dan elit politik yang cenderung korup dan memikirkan kesejahteraan hanya untuk pribadi mereka saja. Seorang kawan akrab saya membalas bahwa tetap saja mulut kita tidak boleh tertutup rapat, melainkan juga komat-kamit membaca doa untuk mengiringi segala persoalan yang ada dan menjadi bagian dari usaha untuk memperbaikinya. Ya&#8230; saya setuju. Saya pikir itulah yang harus kita mulai coba renungkan. Mencoba diam dan berdoa. Setidaknya itu menjadi fase istirahat yang efektif bagi kita untuk kembali mengumpulkan energi, keyakinan dan ya.. ketenangan yang dibutuhkan memperbaiki semua persoalan hidup yang ada.</p>
<p>***</p>
<p>Judul tulisan saya agak wah, dengan membawa nama tokoh negara kita yang memang diakui atau tidak adalah tokoh besar. Ini tidak ada kaitannya dengan usaha-usaha politis dengan tujuan tertentu. Ini hanyalah refleksi diskusi kecil saya dengan seorang kawan, kemarin, sekedar melepas jenuh di tempat kami bekerja. Kami mencoba menyoroti kondisi kehidupan kita sekarang dan membandingkannya dengan kondisi kehidupan pada masa orde baru dulu. Pembicaraan melebar juga ke masa lalu di jaman orde lama.</p>
<p>Kami berdebat kecil dengan topik yang tidak populer tentang benar atau salah tindakan tokoh-tokoh besar di jamannya. Soeharto di jaman  Orde Baru dan Soekarno di jaman Orde Lama. Kita membandingkan hasil dan gaya kepemimpinan mereka dengan mencoba menghadirkan fakta-fakta yang ada. Soekarno yang mampu mengobarkan semangat dan gelora nasionalisme. Soeharto yang berhasil melakukan pembangunan ekonomi yang &#8216;cukup&#8217; membuat nyaman kita pada waktu itu.</p>
<p>Pembicaraan kami tak jauh tentang kesejahteraan, korupsi, kehidupan sehari-hari dan perbandingannya dengan kondisi saat ini. Saya bertanya pada kawan,</p>
<p>&#8220;Bagaimana kondisi pada masa Orde baru dibanding dengan sekarang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya lebih suka dulu.. karena saya tenang dan pembangunan terus ada. Investasi masuk dan negara kita dipercaya dan menjadi tujuan investasi. Proyek-proyek menyerap tenaga kerja yang banyak sehingga kita tidak pernah khawatir akan menjadi pengangguran. US Dolar masih Rp. 2000-an. Tidak seperti sekarang tiap hari kita puyeng. Harga-harga naik, sekolah mahal, rumah sakit mahal, subsidi di cabut perlahan dan pasti.. lapangan kerja tidak ada&#8230;&#8221; Jawab kawan dengan muka merah seakan  menampakan beban yang beliau pendam.</p>
<p>Saya pikir ya.. memang begitulah keadaannya. Walaupun saya tidak juga setuju bahwa pada jaman dulu saya juga tidak merasakan kondisi yang digambarkan oleh kawan tadi tentang masa sekarang. Kondisi sekarang saya rasakan, bagi saya pribadi juga saya rasakan dulu. Tapi mungkin ada beda bahwa kondisi sekarang memang lebih parah. Jadi memang &#8216;seolah&#8217; dulu lebih baik dari sekarang. Padahal memang demikian.  Mungkin anda bingung dengan paragraf ini. Tapi intinya saya setuju dengan pendapat kawan saya tadi.</p>
<p>Saya bertanya lagi,</p>
<p>&#8220;Anda dirugikan dengan kondisi sekarang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jelas dong. Dulu saya masih beli bensin murah karena ada subsidi. Sekarang tidak. Dulu harga stabil dan lapangan pekerjaan ada. Sekarang tidak&#8230; Tentu saja saya dirugikan..&#8221; Jawab kawan saya sengit.</p>
<p>&#8220;Bagaimana dengan akibat yang diwariskan oleh orde baru? Hutang yang besar dan juga korupsi?&#8221; Tanya saya lagi mencoba menyeimbangkan keadaan.</p>
<p>&#8220;Loh korupsi itu terjadi juga sekarang. Mungkin lebih parah lagi. Pemerintah sekarang pun ngutang. Dan juga banyak. Lalu apa bedanya dengan orde baru? Yang jelas ada. Tapi yang jelas kita sebagai rakyat tak terbebani seperti sekarang. Kita merasa tenang. Iklim investasi juga lancar&#8230; Lapangan kerja ada..&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau Soekarno bagaimana? Kaitanya dengan kondisi ekonomi pada masa pemerintahannya..?&#8221; tanya saya mencoba mengalihkan fokus kawan saya dari fanatismenya pada Soeharto.</p>
<p>&#8220;Saya berpikir begini. Terlepas dari semua kenyataan yang ada bahwa ada rakyat kelaparan pada masa orde lama, saya rasa Soekarno juga bagus. Artinya begini. Soekarno itu adalah orang yang bagus pada jamannya. Dimana beliau bisa menjadi pemersatu bangsa pada masa penjajahan dan usaha mempertahankannya. Beliau mampu menggerakan dan menyatukan semua rakyat. Nah.. jaman pembangunan setelah kemerdekaan ini memang mungkin lebih cocok untuk Soeharto sebagai orang yang paling mampu pada jamannya. Tentu saja kalau Soeharto hidup pada jaman penjajahan tidak bisa menjadi orang yang paling bagus pada jamannya. Artinya, Soeharto dan Soekarno adalah tokoh-tokoh terbaik pada jamannya. Soekarno pada jaman kemerdekaan dan Soeharto pada jaman pembangunan&#8230; Karena Soeharto mampu memimpin dan menempatkan ahli-ahli pembangunan dalam bidangnya.. Dan kita merasakan semua fasilitas yang ada seperti sekarang ini, tidak lepas dari hasil pembangunan yang dilakukan pada jaman orde baru.. &#8221; Jawab kawan saya lagi.</p>
<p>Saya mulai menangkap ada hal yang memang harusnya kita hargai dari Soeharto. Beliau adalah pemimpin yang &#8216;mungkin&#8217; terbaik pada jamanya. Tidak saya pungkiri memang pembangunan pada masa orde baru terencana sekali . Program pembangunan terarah dengan adanya REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Walaupun Soeharto hanyalah seorang prajurit yang dididik untuk mengokang senjata, namun beliau ternyata mampu melakukan pembangunan ekonomi dan mengundang investasi masuk ke Indonesia.</p>
<p>&#8220;Saya yakin kalau Soeharto diberi waktu untuk membereskan krisis ekonomi tahun 1997 pun bisa jadi beliau juga mampu. Dan juga bukan tidak mungkin ketika ada nanti orang dengan karakter kuat seperti Soeharto pasti akan mampu juga memberantas korupsi yang terjadi gila-gilaan seperti sekarang ini.. &#8221; Kata kawan saya menambahkan. Kali ini dia berkata tanpa menunggu pertanyaan saya.</p>
<p>***</p>
<p>Saya sendiri bukan pengagum fanatik tokoh-tokoh besar yang ada di Indonesia. Namun saya berusaha memahami jasa dan karya mereka untuk kehidupan kita. Hal-hal kontroversial yang ada pada mereka adalah sisi lain yang harus juga dipahami oleh kita bahwa memang tidak sepatutnya mereka kita anggap dewa. Mereka berjasa pada negara, namun  di sisi lain mereka juga melakukan hal yang kontraproduktif yang bisa meniadakan jasa mereka itu sendiri. Dengan begitu semakin yakin saya, bahwa mereka hanya manusia biasa yang mempunyai dua sisi. Sisi baik dan juga sisi buruk yang tentu saja akan mereka pertanggungjawabkan nantinya.</p>
<p>Soeharto memang fenomenal. Menjadi orang nomor satu selama 32 tahun di negara yang terdiri dari banyak pulau, banyak budaya, banyak agama, dan juga banyak manusianya. Beliau berhasil mengendalikan semua yang ada. Beliau mampu men-delegasi-kan tugas kepemimpinannya kepada orang-orang yang kompeten dibidangnya. Beliau bukan ahli ekonomi, tapi mampu membangun per-ekonomian pada awal tahun 70-an. Sedikit demi sedikit namun pasti ekonomi Indonesia tumbuh dan berhasil menjadi negara swasembada pangan. Beras berhasil menjadi komoditi ekspor. Dalam hubungan luar negeri, Indonesia pun mampu berperan aktif dan disegani. Indonesia pernah memimpin gerakan Non-Blok, sebuah gerakan negara-negara berkembang di dunia.</p>
<p>Sosok Soeharto menjadi kontroversial menjelang kekuasaanya berakhir. Soeharto menjadi pusat kekecewaan rakyat. Soeharto menjadi ikon semua ke-tidak beres-an, korupsi, kolusi nepotisme dan krisis ekonomi pada tahun 1997. Beliau dicaci dimana-mana. Hingga menjelang wafatnya pun.. rakyat terus menyoroti. Dan, astagfirullah.. pada saat ajalnya disiarkan di televisi, banyak masyarakat berucap dengan reflek &#8220;alhamdulillah..&#8221; bukan &#8220;Innalillahi wa&#8217;inna ilaihi raji&#8217;un..&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Ada kenangan kecil saya soal Soeharto. Tahun 1995 saya masuk SMA. Seperti murid yang lainnya, saya mendapat kartu siswa yang tentu saja ada foto kami didepannya. Saya sengaja membeli perangko gambar Soeharto dan menempelnya tepat di sebelah kiri foto saya. Tiap hari saya bawa kartu siswa itu di dompet sebagai identitas. Suatu waktu saya ber-urusan dengan seorang guru pembina karena beberapa persoalan. Sang guru mulai menasehati saya dan meminta kartu identitas saya. Beliau heran dengan gambar pearangko Soeharto yang saya tempel, lalu bertanya,</p>
<p>&#8220;Kenapa kamu tempel perangko ini di kartu siswa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengan perangko itu, saya cuma ingin menggambarkan bahwa cita-cita tertinggi saya dan anak Indoensia lainnya hanya boleh sampai menjadi wakil presiden. Karena pasti dan selalu presidennya adalah Pak Harto&#8230;&#8221; Jawab saya dengan nada menyindir.</p>
<p>Muka sang guru menjadi merah dan hanya terdiam. Beliau tidak menanggapi ucapan saya. Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya, sang guru berkata lirih,</p>
<p>&#8220;Huss.. Subversif&#8230;&#8221;</p>
<p>Saya hanya tersenyum menunduk.</p>
<p>***</p>
<p>Saya mengakui ada yang benar dari apa yang dipaparkan oleh kawan diskusi saya. Terlepas dari unsur fanatisme-nya pada Soeharto, beliau memang telah menjadi yang terbaik pada jamannya, jaman dimana pembangunan menjadi prioritas. Maka bisa jadi beliau pun -mungkin benar- akan mampu mengatasi persoalan krisis 1997 jika diberi waktu. Dengan segala kelebihan yang Soeharto miliki, beliau sangat mungkin bisa melakukan strategi-strategi mengatasi persoalan ekonomi yang ada.</p>
<p>Saya barangkali mulai terpengaruh dengan pandangan kawan diskusi tadi. Seandainya Soeharto  dikarunai umur yang lebih panjang lagi dan memimpin negara ini  melewati jaman ke-3 (setelah jaman penjajahan dan pembangunan), jaman dimana prioritas bangsa ini bukan lagi menghadapi penjajah dan telah mempunyai infrastruktur pembangunan yang cukup, tetapi fokus pada pemberantasan korupsi, mungkin beliau -dengan ke-ahlian strategi yang dimiliki- akan mampu menyelesaikan masalah yang ada. Ya.. mungkin saja. Angan-angan kosong ini,  bisa jadi menjadi cocok dengan judul tulisan saya kali ini. Ya, sayangnya Soeharto &#8216;mati muda&#8217;. Dengan usianya yang mencapai 80-an tahun, Soeharto tidak cukup waktu untuk melewati 2 jaman. Jaman pembangunan dan jaman korupsi.</p>
<p>***</p>
<p>Saya yakin kita perlu pemimpin yang mempunyai karakter kuat untuk melewati jaman korupsi ini. Dan harus diakui bahwa baru Soeharto dan Soekarno-lah yang mampu membuktikan merekalah yang terbaik di jaman-nya. Dan di jaman ke-3 ini, jaman dimana korupsi menjadi masalah terbesar yang dihadapi bangsa kita, belum muncul manusia terbaik untuk menyelesaikan masalah korupsi yang ada. Ya, seandainya saja ada orang dengan karakter kuat seperti Soeharto dan Soekarno, mungkin korupsi cepat ter-atasi. Andai orang-orang terbaik pada jaman-nya itu masih bersama kita, tentu kita bisa minta tolong mereka untuk membereskan persoalan korupsi dengan kemampuan yang mereka miliki. Ya, sayang, mereka telah tiada. Mereka &#8216;mati muda&#8217;. Mereka telah meninggalkan kita semua, pada saat persoalan jaman ke-3 masih menjadi momok bagi kita. Mudah-mudahan kita masih akan dikaruniai manusia terbaik pada jaman ke-3 ini yang akan membawa kita bebas dari korupsi dan memberikan kesejahteraan bagi kita semua. Amin.</p>
<p>***</p>
<p>Salam,</p>
<p>Muhid</p>
<br />Filed under: <a href='http://muhids.wordpress.com/category/opini/'>Opini</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhids.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhids.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhids.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhids.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhids.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhids.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhids.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhids.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhids.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhids.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhids.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhids.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhids.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhids.wordpress.com/473/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=473&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhids.wordpress.com/2010/09/26/soeharto-mati-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f538186db007e7232cfec0083de58579?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">MUHID</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhids.files.wordpress.com/2010/09/index.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">index</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Emansipasi Kartini</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com/2010/04/20/emansipasi-kartini/</link>
		<comments>http://muhids.wordpress.com/2010/04/20/emansipasi-kartini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 15:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MUHID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhids.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 21 April adalah hari istimewa. Banyak perempuan mengenakan kebaya. Dari anak-anak TK sampai ibu-ibu rumah tangga istri para pejabat kita, mengenakan kebaya. Tidak berlebihan apabila kebaya kemudian menjadi pakaian khas 21 April. Filed under: Narasi<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=77&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://muhids.files.wordpress.com/2010/04/kartini1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-466" title="Kartini" src="http://muhids.files.wordpress.com/2010/04/kartini1.jpg?w=510" alt=""   /></a>Tanggal 21 April adalah hari istimewa. Banyak perempuan mengenakan kebaya. Dari anak-anak TK sampai ibu-ibu rumah tangga istri para pejabat kita, mengenakan kebaya. Tidak berlebihan apabila kebaya kemudian menjadi pakaian khas 21 April.<br />
<span id="more-77"></span></p>
<br />Filed under: <a href='http://muhids.wordpress.com/category/narasi/'>Narasi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhids.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhids.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhids.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhids.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhids.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhids.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhids.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhids.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhids.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhids.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhids.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhids.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhids.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhids.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=77&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhids.wordpress.com/2010/04/20/emansipasi-kartini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f538186db007e7232cfec0083de58579?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">MUHID</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhids.files.wordpress.com/2010/04/kartini1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kartini</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pajak</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com/2010/04/07/pajak/</link>
		<comments>http://muhids.wordpress.com/2010/04/07/pajak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 13:32:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MUHID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhids.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Gayus menjadi terkenal dengan cepat. Dimana-mana disebutlah namanya. Saya sendiri awalnya tak berminat untuk mencari tahu, ada apa dengan Gayus. Tapi entahlah, sepertinya Gayus sendirilah yang memberitahu saya. Dia muncul di TV 14 inch di rumah saya, dia muncul juga di layar komputer di kantor tempat saya bekerja. Dia juga disebut-sebut oleh para demonstran yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=72&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhids.files.wordpress.com/2010/04/pajak1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-469" title="pajak" src="http://muhids.files.wordpress.com/2010/04/pajak1.jpg?w=150&#038;h=34" alt="" width="150" height="34" /></a>Gayus menjadi terkenal dengan cepat. Dimana-mana disebutlah namanya. Saya sendiri awalnya tak berminat untuk mencari tahu, ada apa dengan Gayus. Tapi entahlah, sepertinya Gayus sendirilah yang memberitahu saya. Dia muncul di TV 14 inch di rumah saya, dia muncul juga di layar komputer di kantor tempat saya bekerja. Dia juga disebut-sebut oleh para demonstran yang iseng-iseng berkumpul di depan gedung KPK, tepat 100 m dari tempat saya bekerja. Gayus pun menjadi buah bibir teman-teman saya. Yah.. masih banyak lagi alasan Gayus dengan tanpa sengaja memenuhi isi kepala saya.</p>
<p>Anda sendiri mungkin jauh lebih tahu soal Gayus dibanding saya. Dia menjadi news maker dalam beberapa minggu terakhir. Mengalahkan isu Bank Century, isu haramnya rokok, isu sumbangan uang ke Muhammadiyah dari tokoh AS dalam memerangi rokok, bahkan menenggelamkan berita terpilihnya ketua PBNU yang baru. Saya teringat akan pepatah arab yang mengatakan, &#8220;kalo engkau ingin terkenal maka kencingilah sumur zam-zam..&#8221; Pepatah yang sifatnya menyindir dan mengajarkan pada kita bahwa menjadi terkenal itu mudah saja. Korupsilah 28 Milyar, maka terkenalah Gayus. Tidak menjadi soal apakah kita terkenal sebagai apa. Pokoknya terkenal. Tentu saja ini bukan sebuah anjuran. Bahkan lebih kepada sebuah pesan.. bahwa pentingkah kita menjadi terkenal.</p>
<p>Pernah saya dengar di sebuah wawancara di RRI dengan ibu mertua Gayus. Apa yang dikatakan sang ibu mertua tadi?</p>
<p>&#8220;Gayus itu sederhana sekali. Baik orangnya. Tidak suka macam-macam. Orang bajunya kalo di rumah itu-itu saja. Sederhana sekali&#8230;&#8221; Terdengar suara wanita paruh baya dari radio di tempat fotokopian yang kebetulan saya singgahi. Saya tersenyum sinis mendengar sang ibu mertua tadi. Si abang penunggu fotokopian pun berkomentar sinis,</p>
<p>&#8220;Ah bisa aja ibu ini bicara&#8230;&#8221;</p>
<p>Saya memandang si abang tadi, sambil tersenyum. Kami kemudian tertawa kecil menghibur diri sambil mengurangi emosi yang entah darimana datangnya, tiba-tiba saja memenuhi rongga dada.</p>
<p>Istri saya di rumah pun suka bertanya disela-sela obrolan kami di sore hari,</p>
<p>&#8220;Ayah.. itu istrinya Gayus nggak tahu apa kalo suaminya makan uang korupsi..? Kan  dia terima uang tiap bulan masak nggak ditanya kok dapetnya banyak sekali..&#8221;</p>
<p>Saya bilang sama istri saya,</p>
<p>&#8220;Mungkin tahu juga.. Atau mungkin malah istrinya yang suruh ..&#8221; Canda saya sambil terkekeh kecil.</p>
<p>Kemaren saya dengar di radio Sonora pagi jam 6-an, sebuah iklan. Iklan ini bercerita soal anak kecil pemulung yang ingin sekali merasakan es krim.. tapi karena tidak punya uang maka ia hanya bisa menelan ludah. Tiba-tiba ia bertemu dengan anak kecil lain, seorang perempuan, di sebuah sekolah SD. Sang anak perempuan memberinya es krim dan bertanya, kenapa sang anak yang menjadi pemulung tadi tidak bersekolah.. Sang pemulung hanya terdiam. Diiringi musik menyentuh hati.. terdengarlah ucapan bapak-bapak..</p>
<p>&#8220;Makanya mari kita bayar pajak&#8230; agar bisa membantu rakyat miskin bersekolah..&#8221;</p>
<p>Saya tersenyum.. sambil bergumam sendiri,</p>
<p>&#8220;Lebih miskin pegawai pajak dari pada pemulung tadi pak..! Buat pegawai pajak sajalah biar mereka bisa sekolah SD lagi&#8230;&#8221;</p>
<p>***</p>
<p>Lain dari itu, sepertinya Direktorat pajak sedang menjadi sorotan. Seorang teman, tinggal di daerah Bintaro bercerita. Tetangganya kebanyakan pegawai-pegawai pajak. Dia mendengar cerita bahwa mereka menjadi tertutup sekali jarang keluar rumah dan berinteraksi dengan penghuni komplek yang lain. Keluarga mereka di kampung-kampung sering menelpon ke rumah pegawai-pegawai pajak itu,</p>
<p>&#8220;Eh.. gimana? Kamu kena ngga? Kamu ketahuan ngga?..&#8221; Begitulah keluarga pegawai pajakdi kampung dengan sangat khawatir minta konfirmasi.</p>
<p>Kemudian, dari televisi kita tahu begitu mewahnya rumah dirjen pajak dengan kebun binatang mini. Besar dan asri rumahnya. Mobilnya berjajar. Ah.. sungguh nikmat rasanya. Dan entahlah kenapa beliau belum laporkan juga kekayaan beliau ke KPK.</p>
<p>Ada juga teman saya bercerita, dia melihat pegawai pajak naik kereta, seorang ibu-ibu, diteriaki maling. Ibu-ibu tadi hanya terdiam menahan malu. Saking malunya, lama-lama menangislah dia. Tapi tetap saja penumpang kereta yang lain dengan acuhnya terus meneriaki maling.</p>
<p>***</p>
<p>Ini adalah fenomena yang sebenarnya kebanyakan kita sudah faham. Bagi kita sudah tidak aneh lagi melihat pegawai pajak hidup makmur melebihi kewajaran yang ada. Istri seorang teman pegawai pajak keceplosan bilang sama istri saya, &#8220;Paling nggak 20 juta tiap bulan uang tambahan..&#8221;</p>
<p>Maka menjadi maklumlah saya, kenapa mereka bisa punya 4 buah mobil, 2 buah rumah besar di jakarta dan sebuah apotik besar. Entahlah golongan berapa sang suami bekerja di direktorat pajak, tapi begitulah kemakmuran menjadi hal yang wajar buat mereka. Dan ya.. mereka menikmatinya dengan sadar penuh kebanggaan.</p>
<p>Seorang teman lain bercerita ketika sebulan lalu ia menjadi panitia pembangunan musholah di kompleknya. Timbul di hatinya rasa kagum dan bangga melihat tetangganya yang bekerja di direktorat pajak menyumbang puluhan juta dengan entengnya tanpa pikir panjang. Dan berdirilah musholah tersebut tanpa menunggu waktu lama.</p>
<p>***</p>
<p>Menjadi sangat sesak dada kita ketika teringat bagaimana dengan entengnya BBM naik, kemudian tarif dasar listrik juga naik, perguruan tinggi disulap menjadi semacam mesin pencari uang bagi dirinya sendiri tanpa ada lagi subsidi, semua pendidikan menjadi mahal di level manapun, kemudian dengan giatnya pemerintah meng-iklan-kan pajak. Menggugah kesadaran rakyat untuk turut membantu beban pemerintah. Pemerintah kita bilang mereka kurang uang. Jadi harus mengutang. Rakyat harus bayar pajak agar bisa bantu pembangunan. Batas minimal wajib pajak bagi pekerja dengan beban 2 anak adalah 18 juta rupiah per-tahun. Artinya bagi kita yang berpenghasilan 1,5 juta rupiah per-bulan maka wajiblah kita membayar pajak. Sedang sepertinya pemerintah tidak pernah mau tahu bisa apa uang 1,5 juta rupiah untuk membiayai sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan 2 anaknya tiap bulannya. Cukup atau kurang, tidak menjadi pertimbangan. Batas pajak sepertinya harus segera ditinjau ulang. Tapi yakinkah pemerintah menyadari ini? Kita hanya mampu menghela nafas dan mengurut dada.</p>
<p>Lebih sesak lagi ketika kita tahu bahwa gaji pegawai pajak se-level Gayus adalah 15 juta rupiah perbulan. Masih saja kurang dan korup. &#8220;Pahlawan&#8221; ekonom hebat kita bilang, harus ada remunerasi biar tidak ada lagi korupsi. Lalu apa yang terjadi setelah remunerasi? Tidak lain tidak bukan, sama saja. Korupsi rupanya sudah menjadi tradisi. Mereka tidak ingat lagi bagaimana susah payahnya rakyat yang miskin untuk sekedar mencukupi jatah makan keluarga, seorang pemulung tua menggendong anaknya yang mati kelaparan di kereta api manggarai, busung lapar terjadi di pedalaman kalimantan, dan banyak lagi berita-berita lain soal kemiskinan. Sepertinya beragam berita mengenaskan itu tidak mampu menembus telinga, membukakan mata dan menggugah hati mereka. Maka jangan heran nanti kita akan kaget lagi karena walaupun sudah rakyat ini rajin membayar pajak, tetapi hutang negara makin besar juga. Lalu kemana uang-uang itu? Sedangkan pembangunan pun jalan ditempat saja. Jalan rusak di Ciganjur sudah 1 tahun tidak diperbaiki, sekolah menjadi lebih mahal tiap tahun, biaya berobat naik tiap bulan.. lalu ahh.. payahlah sudah membahasnya. Sesak dada kita karenanya dan naik darah kita memikirkannya&#8230;</p>
<p>Diakhir tulisan ini saya coba kutip sebuah ayat dalam Al-Qur&#8217;an yang tidak jauh menggambarkan kondisi mereka,</p>
<p>&#8220;Lahum Qulubun laa yafqohuuna bihaa walahum a&#8217;yunun laa yubshiruna bihaa walahum adzanun laa yasma&#8217;una biha ulaa ika kal an&#8217;am balhum adlol..&#8221;</p>
<p>&#8221; Mereka mempunyai hati tetapi tidak memperhatikan, mereka mempunyai mata tetapi tidak melihat, mereka mempunyai telinga tetapi tidak mendengar, Mereka (karena melakukan yang demikian itu) seperti binatang bahkan lebih sesat lagi..&#8221;</p>
<p>Salam,</p>
<p>muhid</p>
<br />Filed under: <a href='http://muhids.wordpress.com/category/narasi/'>Narasi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhids.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhids.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhids.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhids.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhids.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhids.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhids.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhids.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhids.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhids.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhids.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhids.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhids.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhids.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=72&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhids.wordpress.com/2010/04/07/pajak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f538186db007e7232cfec0083de58579?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">MUHID</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhids.files.wordpress.com/2010/04/pajak1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">pajak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IA-PKKT, mau kemana?</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com/2009/10/23/ia-pkkt-mau-kemana/</link>
		<comments>http://muhids.wordpress.com/2009/10/23/ia-pkkt-mau-kemana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 17:18:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MUHID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhids.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[PKKT (Pendidikan Khusus Kejuruan Teknik) telah ditutup. Setelah puluhan tahun lamanya, PT. Siemens Indonesia memberikan “pelayanan” terhadap sebagian kecil masyarakat Indonesia untuk mengenyam pendidikan gratis. Sebuah “pelayanan” yang cukup bagus untuk sebuah bangsa seperti Indonesia, dimana pendidikan masih menjadi monopoli bagi mereka yang mempunyai uang yang cukup saja. Ratusan atau mungkin mencapai angka ribuan, lulusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=80&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhids.files.wordpress.com/2009/10/tanda.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-439  alignleft" title="tanda" src="http://muhids.files.wordpress.com/2009/10/tanda.jpg?w=150&#038;h=137" alt="tanda" width="150" height="137" /></a>PKKT (Pendidikan Khusus Kejuruan Teknik) telah ditutup. Setelah puluhan tahun lamanya, PT. Siemens Indonesia memberikan “pelayanan” terhadap sebagian kecil masyarakat Indonesia untuk mengenyam pendidikan gratis. Sebuah “pelayanan” yang cukup bagus untuk sebuah bangsa seperti Indonesia, dimana pendidikan masih menjadi monopoli bagi mereka yang mempunyai uang yang cukup saja.</p>
<p>Ratusan atau mungkin mencapai angka ribuan, lulusan PKKT sudah lulus dan bekerja. Sebagian diantaranya bahkan berhasil membuat lapangan kerja untuk dirinya sendiri. Sebuah hasil yang bagus. Hasil yang sangat memuaskan dan patut dibanggakan. Ditengah situasi ekonomi Indonesia yang labil, persaingan kerja yang ketat dan lapangan kerja yang sempit, lulusan PKKT telah berhasil menjadi pilihan yang tepat bagi perusahaan yang ada di Indonesia. Bahkan kiprah lulusan PKKT telah merambah ke beberapa Negara. Sebut saja, Malaysia, Singapore, Thailand, Qatar, UAE, Bahrain, Saudi Arabia, German dan Belanda.</p>
<p>Layaknya seperti almamater pendidikan yang lain, alumni PKKT, atas inisiatif dan dorongan ikatan emosinya, membentuk sebuah ikatan alumni, IA-PKKT. Ikatan alumni ini tidak berafiliasi secara struktural pada PKKT. IA-PKKT berdiri sendiri. Namun dalam kegiatannya, tentu saja sebisa mungkin melibatkan PKKT sebagai institusi pendidikan yang melahirkan alumni PKKT. Kegiatan Reuni Akbar ke-3 di Anyer, misalnya.</p>
<p>Sebagai sebuah organisasi, IA-PKKT mempunyai struktur kepengurusan yang jelas. Mempunyai Ketua, Wakil, Bendahara dan sebagainya. Kepengurusan ini dibentuk secara periodik dalam sebuah acara bertajuk Reuni dan Pemilihan Ketua Umum Baru. Sebuah acara puncak yang menjadi mandat wajib yang harus dijalankan oleh pengurus IA-PKKT.</p>
<p>Untuk mengikat komunikasi antar aluminya, IA-PKKT membuat sebuah Mailing List. Milis ini tergolong aktif. Bermacam topik menjadi alat komunikasi yang interaktif antar alumni. Mulai dari politik, kemanusiaan, berita keluarga, info lowongan kerja, dan sebagainya. Milis ini menjadi alat yang efektif untuk terus memelihara komunikasi, persaudaraan dan silaturahmi antar alumni. Disamping itu, tentu saja milis menjadi media yang berguna untuk mengisi waktu luang, mengurangi rasa bosan dan mengaburkan perasaan terasing dan rasa sepi.</p>
<p>Dalam kegiatannya, IA-PKKT bisa dibilang sangat ekonomis. Untuk jangka 3 tahun kepengurusan misalnya, IA-PKKT menyelenggarakan acara satu kali Reuni Akbar, Buka Puasa Bersama di bulan Ramadhan tiap tahun (kadang ditiadakan karena beberapa alasan), dan menjalankan sebuah unit usaha koperasi. Ini bisa dipahami karena kesibukan alumni yang berbeda, rasa memiliki yang beragam tingkatannya dan masih banyak faktor lainnya. Tidak terlalu jelek untuk sebuah organisasi ikatan alumni.</p>
<p>Disisi lain, ada yang patut disayangkan. Karena potensi yang ada pada alumni PKKT sepertinya belum mampu mewujudkan sebuah karya bersama yang bagus. Alumni PKKT yang berhasil menjadi pilihan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia dan luar negeri karena kapasitas dan kapabilitasnya, belum mampu menyalurkan potensi tersebut untuk membentuk sebuah organisasi yang kuat. Organisasi yang mampu memberikan nilai tambah untuk mereka sendiri. IA-PKKT masih dianggap sebuah angin lalu yang mubah saja. Bisa ya bisa tidak. Karena tidak menguntungkan juga tidak merugikan. Dalam hal pendanaan misalnya. Belum ada donatur tetap untuk berjalannya kegiatan IA-PKKT. Biaya operasional website dan milis pun tampaknya sedikit terganggu. Dibandingkan dengan jumlah alumni yang sukses maka mestinya masalah dana tersebut bukanlah sebuah kendala.</p>
<p>Unit usaha IA-PKKT sebagai contoh yang lain. IA-PKKT belum bisa mengumpulkan potensi-potensi yang ada pada alumni. IA-PKKT belum mampu membentuk sebuah badan usaha yang lebih kuat. Tentu menyenangkan apabila “koperasi” (baca : Badan Usaha) IA-PKKT bisa men-supply cable tray untuk projek yang sedang ditangani oleh salah satu alumninya. Atau tentu menguntungkan apabila IA-PKKT bisa menjadi semacam Human Resource. Hal ini akan sangat membantu bagi alumni lain yang sedang mencari pekerjaan baru. Atau bisa juga berangan-angan IA-PKKT menjadi sebuah kumpulan modal virtual yang bisa dimanfaatkan untuk kerja sama investasi dengan unit usaha lain, misalnya. Itu sebagian kecil dari banyak kemungkinan yang bisa diwujudkan oleh alumni PKKT yang mempunyai potensi yang sudah teruji. Kendala-kendala tentu ada. Dan kerja bersama antar alumni tentu akan mampu mengatasinya.</p>
<p>Harapan tersebut mungkin sangat berlebihan untuk sebuah organisasi semacam IA-PKKT. Dan semuanya akan bergantung pada bagaimana alumni memproyeksikan IA-PKKT itu sendiri. Cukup menjadi tempat singgah romantisme masa lalu yang menyenangkan. Hal ini positif-posistif saja. Atau menjadikannya mempunyai nilai tambah lain, yang bermanfaat bagi mereka sendiri. Dan ini lebih positif lagi.</p>
<p>Yang jelas, tidak mudah menyatukan manusia-manusia dalam sebuah jamaah. Apapun nama jamaahnya. Dan salah satu caranya adalah dengan belajar rendah hati untuk mau menghargai, menghormati dan membuang ke-aku-an yang semu.</p>
<p>salam,</p>
<p>muhid</p>
<br />Posted in Opini  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhids.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhids.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhids.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhids.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhids.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhids.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhids.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhids.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhids.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhids.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhids.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhids.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhids.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhids.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=80&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhids.wordpress.com/2009/10/23/ia-pkkt-mau-kemana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f538186db007e7232cfec0083de58579?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">MUHID</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhids.files.wordpress.com/2009/10/tanda.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">tanda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sajak Gurun</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com/2009/07/08/sajak-gurun/</link>
		<comments>http://muhids.wordpress.com/2009/07/08/sajak-gurun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 21:04:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MUHID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhids.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[        Terik memekik  Lembab melebam Debu membiru Peluh berkeluh Kerut meniti dahi Berlekuk persis kali Tawa obat jiwa Tanah suci penenang hati Syukur hiburan diri Pengganti keluh meluruh Asa dinanti Sisa senyum dipaksa *** Sebuah refleksi gundah seorang kawan menjelang sholat ashar.  salam muhid Posted in Narasi<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=87&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhids.files.wordpress.com/2009/07/gurun.jpg"><img class="size-full wp-image-429   alignleft" title="gurun" src="http://muhids.files.wordpress.com/2009/07/gurun.jpg?w=510" alt="gurun"   /></a></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p>Terik memekik </p>
<p>Lembab melebam</p>
<p>Debu membiru</p>
<p>Peluh berkeluh</p>
<p>Kerut meniti dahi</p>
<p>Berlekuk persis kali</p>
<p>Tawa obat jiwa</p>
<p>Tanah suci penenang hati</p>
<p>Syukur hiburan diri</p>
<p>Pengganti keluh meluruh</p>
<p>Asa dinanti</p>
<p>Sisa senyum dipaksa</p>
<p>***</p>
<p>Sebuah refleksi gundah seorang kawan menjelang sholat ashar. </p>
<p>salam</p>
<p>muhid</p>
<br />Posted in Narasi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhids.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhids.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhids.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhids.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhids.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhids.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhids.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhids.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhids.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhids.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhids.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhids.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhids.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhids.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=87&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhids.wordpress.com/2009/07/08/sajak-gurun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f538186db007e7232cfec0083de58579?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">MUHID</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhids.files.wordpress.com/2009/07/gurun.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gurun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menikmati Kenyataan</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com/2009/05/29/menikmati-kenyataan/</link>
		<comments>http://muhids.wordpress.com/2009/05/29/menikmati-kenyataan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 08:16:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MUHID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhids.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman bertanya di dapur, &#8220;Hid, apa bumbu sop ya..? Gue mau masak sop nih..&#8221; &#8220;Ooo gampang itu. Merica, bawang merah dan bawang putih diulek. Campur ke rebusan dagingnya. Kasih gula, garam dan penyedap rasa secukupnya.. sudah tunggu sampe mateng. Kasih daun bawang dan tomat kalo dah mateng..&#8221; jawab saya. &#8220;Ooo sederhana ya&#8230;&#8221; kata temen [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=78&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhids.files.wordpress.com/2009/05/baca1.jpg"><img class="size-full wp-image-407  alignleft" title="baca" src="http://muhids.files.wordpress.com/2009/05/baca1.jpg?w=510" alt="baca"   /></a></p>
<p>Seorang teman bertanya di dapur,</p>
<p>&#8220;Hid, apa bumbu sop ya..? Gue mau masak sop nih..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ooo gampang itu. Merica, bawang merah dan bawang putih diulek. Campur ke rebusan dagingnya. Kasih gula, garam dan penyedap rasa secukupnya.. sudah tunggu sampe mateng. Kasih daun bawang dan tomat kalo dah mateng..&#8221; jawab saya.</p>
<p>&#8220;Ooo sederhana ya&#8230;&#8221; kata temen tadi sambil menyiapkan bawang merah dan bawang putih.</p>
<p>&#8220;Iya. Sebenernya semua masakan cuman itu perlu kombinasi tiga bumbu itu saja. Gula, garem dan sedikit penyedap rasa. Itu inti bumbu biar masakan kita ada rasanya..&#8221; kata saya sedikit berteori sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Ooo.. Trus kalau fungsi bawang merah dan bawang putih buat apa? Soalnya kalau gue lihat lu masak apa aja pasti pake itu bumbu..&#8221; kata temen saya sedikit penasaran</p>
<p>&#8220;Iya. Itu aksesoris saja sebenernya.. yang penting tiga hal tadi yang gue bilang..&#8221; jawab saya memancing penasaran</p>
<p>&#8220;Yang bener lu ?! Pasti adalah fungsinya.. Gue lagi belajar masak nih..&#8221; tanya temen saya lagi.</p>
<p>&#8220;Iya sih. Tapi nggak penting.. tergantung selera aja..&#8221; jawab saya males-malesan sambil mengiris bawang merah.</p>
<p>&#8220;Ah.. elo, Hid. Tapi ada fungsinya kan? Apa fungsinya bawang merah &amp; bawang putih itu coba?&#8221; Tanya temen saya mulai bawel</p>
<p>&#8220;Fungsi bawang merah dan bawang putih di masakan adalah untuk mengusir roh jahat yang ada di tubuh kita. Itu saja.. Hehehe..&#8221; jawab saya sambil tertawa</p>
<p>&#8220;Sompreeet&#8230;&#8221; kata temen saya ikut tertawa. Obrolan kami terus berlanjut. Sekali-kali terdengar tawa, terkadang sedikit serius.</p>
<p>Disediakan beberapa compound komplet dengan dapur, mesin cuci, kulkas, kompor gas dan listrik, TV, wireless Internet, dan kitchen set  untuk akomodasi kami selama menyelesaikan proyek.  Tapi kami harus melakukan semuanya sendiri. Masak, mencuci dan menyetrika. Sudah selesai kita bekerja di site untuk perusahaan, begitu pulang ke rumah  kita harus bekerja lagi untuk keperluan kita sendiri.</p>
<p>&#8220;Lengkap sudah penderitaan kita ini, Hid&#8230;Sudah jauh dari keluarga, kerja keras di site.. sekarang harus kerja lagi buat masak..&#8221; Kata sang teman sambil terkekeh seolah mengejek diri sendiri.. Saya ikut tertawa.</p>
<p>&#8220;Coba bandingkan dengan mereka yang kerja di konsultan kita&#8230; Sudah tinggal enak saja. Pulang ada yang ngurus semua kerjaan rumah..Tak perlu lagi masak, cuci, setrika.. Lah kita? Waduh&#8230; Persis kisah sedih tak berujung .. rupanya.. hehehe..&#8221; Kata beliau lagi sambil terkekeh. Saya ikut juga terkekeh.</p>
<p>Sesekali saya menyanyikan bait dari Koes Plus,</p>
<p><em>Bila senja telah tiba.. hatiku tambah sengsara..</em></p>
<p>Kami kembali tertawa terpingkal-pingkal menikmati ejekan kami terhadap diri kami sendiri.</p>
<p>***</p>
<p>Terkadang, kita selalu bisa menikmati apa yang kita lihat. Dan jarang bisa menikmati apa yang kita rasakan. Ketika kita melihat orang lain turun dari mobil pribadinya, kita otomatis berfikir alangkah nikmatnya orang itu. Dan alangkah tidak beruntungnya kita karena masih naik angkot. Ketika kita melihat orang lain makan di Restoran, maka kita merasa bahwa beruntung sekali orang itu, dan alangkah tidak beruntungnya kita karena tidak punya uang kesana. Ketika kita melihat orang lain punya fasilitas lebih, maka sepertinya kita merasa tidak pernah menerima fasilitas apapun. </p>
<p>Mata kita lebih mampu mendefinisikan nikmat daripada perasaan kita. Kita mudah sekali mendefinisikan nikmat dengan melihat orang lain, tanpa bisa merasakan nikmat pada apa yang kita dapatkan. Singkatnya orang lain selalu kita lihat lebih nikmat dari kita. Dan karenanya selalu saja kita merasa lebih tidak beruntung dari orang lain. Perasaan ini adalah naluri alami pada diri manusia. Bahwa manusia bisa lebih mampu mendefinisikan nikmat dengan melihat dan jarang sekali mampu mendefinisikan nikmat dengan merasa. Kita melihat orang yang naik mobil pribadi itu nikmat sekali, ketika kita masih harus naik angkot. Tetapi pada saatnya nanti, ketika kita dikaruniakan mampu membeli mobil pribadi, maka kadang tidak terasa kenikmatan yang dulu kita lihat pada orang lain. Begitu pun dengan Restoran. Ketika kita pada saatnya nanti, punya uang untuk pergi ke Restoran, maka sepertinya kita lupa akan kenikmatan yang dulu kita lihat pada orang lain. Naik mobil pribadi biasa-biasa saja. Restoran biasa-biasa saja. Lalu dimana kenikmatan yang dulu kita sangka pada orang lain?</p>
<p>Ada yang perlu kita cermati. Kecenderungan mata mendefinisikan nikmat, kadang hanya akan mengurangi nikmat terhadap apa yang sedang kita rasakan. Nikmatnya kita naik angkot akan terkurangi karena kita melihat orang lain naik mobil pribadi. Nikmatnya makan di Warteg kadang terkurangi karena kita melihat orang lain makan di Restoran. Ini seperti sebuah ilusi. Karena pada saatnya nanti kita ke Restoran, maka kita tidak menemukan apa yang kita sangka ketika melihat orang lain makan di Restoran.</p>
<p>Saya tidak sedang mengingkari bahwa makan di Restoran itu sama saja dengan makan di Warteg. Atau tidak pula sedang menipu diri bahwa naik mobil pribadi itu sama nyamannya dengan naik angkot. Sebagai manusia yang berindra normal tentu kita setuju terhadap apa yang sedang kita lihat bahwa sungguh nikmat mereka yang sedang di mobil pribadi atau makan di restoran. Namun saya coba mengajak kita untuk tidak menghilangkan nikmat yang sedang kita rasakan hanya karena kita melihat orang lain lebih nikmat. Biarlah orang lain menikmati mobil pribadinya. Kita sudah cukup nikmat dengan angkot saja. Biarlah orang lain menikmati makan di Restoran. Kita sudah cukup nikmat dengan makan di Warteg saja. Jangan sekali-kali mata kita ini mengubur semua nikmat yang harusnya bisa kita rasakan. Jangan sekali-kali mata ini membuat ilusi yang membuat perasaan tidak lagi bisa merasakan apa yang sedang kita terima. Nikmati saja apa yang sudah ada. Dan kalau kita menginginkan apa yang belum ada, hendaknya jangan sampai membuat kita merasa tidak punya apa-apa.</p>
<p>Saya teringat akan Qurán surat Al-Fajr Ayat 15 &#8211; 16 (QS 89 : 15-16) ,</p>
<p><em>15. Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: &#8220;Tuhanku telah memuliakanku&#8221;.</em></p>
<p><em>16. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: &#8220;Tuhanku menghinakanku&#8221;</em></p>
<p>Tuhan mengingatkan bahwa kebanyakan kita memang lebih cenderung memandang bahwa kesenangan adalah kemuliaan dan keterbatasan adalah kehinaan. Namun, lihatlah redaksional ayat diatas. Tuhan mengulang kata yang sama. &#8220;mengujinya&#8221;. Tuhan menekankan bahwa kesenangan, kemuliaan dan keterbatasan rizki adalah soal ujian saja. Bukan soal kemuliaan atau kehinaan. Bukan sama sekali. Pada hakikatnya bukan soal itu. Melainkan keduannya hanyalah sebuah ujian. Ya, hanya ujian saja. Kita sedang sama-sama diuji. Begitupun mereka yang kita sangka lebih beruntung. Mereka juga sedang diuji dengan soal yang berbeda, begitu kira-kiranya. Dan tentu siapa yang lebih baik antara kita atau mereka adalah pada hasilnya. Siapa yang punya nilai ujian lebih bagus, dialah yang lebih baik.</p>
<p>Saya teringat juga akan nasihat Rosul agar kita selalu berdoa,</p>
<p><em>&#8220;Allohumma áinna álaa dzikrika wasyukrika wahusnan íbadatika.. Ya Alloh tolonglah kami agar selalu mengingatMU, bersyukur kepadaMU dan memperbaiki ibadah kepadaMU..&#8221;</em></p>
<p>Seakan Rosul mengajarkan kepada kita untuk selalu mengingat Tuhan ketika melihat apapun dengan mata kita. Kemudian Beliau mencoba mengarahkan kita agar mau bersyukur dengan apa yang kita terima. Kemudian setelahnya kita didorong untuk terus menerus memperbaiki amal ibadah kita, sebagai perwujudan rasa syukur tersebut. Amin. Semoga Alloh mengabulkannya. Agar kita tidak silau dengan pemandangan di depan mata kita. Agar tidak subur lagi rasa iri dengki, angan-angan yang panjang dan gelisah di hati kita. Karena tidak dipungkiri jaman sekarang ini adalah jaman ekshibisionis. Jaman pertontonan. Semua orang berlomba-lomba mempertontonkan diri dan segala yang mereka miliki. Akan banyak sekali tontonan kenikmatan di depan mata kita. Dan semoga hal ini tidak akan mengubur nikmat yang kita terima. Semoga tontonan tersebut tidak akan membuat kita mati rasa. Biarkan saja mereka menikmatinya. Sementara mari nikmati saja apa yang kita punya. Nikmati saja kenyataan yang ada. Dan pada saatnya nanti kita, ketika kita berada di posisi yang sama seperti mereka sekarang, kita akan tahu harus berbuat apa. Karena, kembali lagi pada makna Qurán surat Al Fajr ayat 15-16 (QS 89 : 15-16) diatas, semua itu tidak lain adalah ujian saja. Wallohu a&#8217;lam.</p>
<p>maás salam</p>
<p>muhid</p>
<br />Posted in Renungan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhids.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhids.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhids.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhids.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhids.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhids.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhids.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhids.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhids.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhids.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhids.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhids.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhids.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhids.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=78&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhids.wordpress.com/2009/05/29/menikmati-kenyataan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f538186db007e7232cfec0083de58579?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">MUHID</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhids.files.wordpress.com/2009/05/baca1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baca</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Isyarat Alam</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com/2009/05/09/isyarat-alam/</link>
		<comments>http://muhids.wordpress.com/2009/05/09/isyarat-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 17:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MUHID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhids.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Berita menggemparkan sore ini saya baca di detik.com tentang seorang nenek yang ditemukan duduk ditengah laut. Supiah, nama nenek tersebut. Berumur 65 warga Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. Beliau ditemukan sedang duduk di tengah laut oleh sekelompok nelayan. Tepatnya di Laut Pelawangan, Kamis malam (7/5/2009). Pakaian dan tubuhnya tidak basah sama sekali. MasyaALLOH benar-benar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=169&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhids.files.wordpress.com/2009/05/neneksupiah.jpg"><img class="size-full wp-image-340  alignleft" title="neneksupiah" src="http://muhids.files.wordpress.com/2009/05/neneksupiah.jpg?w=510" alt="neneksupiah"   /></a>Berita menggemparkan sore ini saya baca di detik.com tentang seorang nenek yang ditemukan duduk ditengah laut. Supiah, nama nenek tersebut. Berumur 65 warga Dusun Selorejo Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi. Beliau ditemukan sedang duduk di tengah laut oleh sekelompok nelayan. Tepatnya di Laut Pelawangan, Kamis malam (7/5/2009). Pakaian dan tubuhnya tidak basah sama sekali. MasyaALLOH benar-benar ajaib. Setelah dibujuk, Supiah mau di-evakuasi oleh para nelayan ke darat. Sebelumnya beliau sempat menolak dan minta diantar kearah laut lepas.</p>
<p>Supiah mengaku, jika dirinya keluar dari rumah sejak Kamis siang sekitar pukul 12.00 WIB. Sejak bangun tidur pagi hari, dirinya ingin pergi ke laut lantaran kangen masa lalu bersama mantan suami yang menjadi nelayan dan dua anaknya.</p>
<p>&#8220;Mbiyen aku sering njaring iwak karo arek-arek, aku cuma butuh nyemplung ke laut, kangen tok (Dulu saya sering menjaring ikan bersama anak-anak, saya cuma ingin mencebur ke laut, kangen itu saja,&#8221; jelas Nenek Supiah lirih dengan nada terpotong-potong, sambil berdiri melihat halaman rumahnya saat ditemui detiksurabaya.com di rumahnya, Sabtu (9/5/2009) siang.</p>
<p>Meski jarak antara rumahnya dan Pantai Grajagan Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo sekitar 12 Km, namun Nenek Supiah menempuhnya dengan berjalan kaki. Selama perjalanan melalui jalan raya, si nenek tak lupa mengumpulkan ranting kayu yang diambil dari rimbunnya hutan jati yang ada di sisi jalan.</p>
<p>Sesampainya di Pantai Grajagan, nenek Supiah beristirahat. Agar &#8216;aksinya&#8217; tidak diketahui warga, dia mengaku menunggu waktu hingga beranjak gelap. Dengan tenang dan santai, nenek sakti itu mulai masuk ke air laut.</p>
<p>&#8220;Aku ngenteni wong-wong ben podo sholat maghrib, aku terus mlaku nengah nek tengah segoro, (Saya tunggu orang-orang biar sholat magrib, saya lantas jalan menuju ke tengah lautan),&#8221; jelasnya dengan nada sepotong-potong</p>
<p>&#8220;Aku digowo mlaku-mlaku karo banyu segoro, kadang ngiwo kadang nengen maneh. Kadang yo nengah, (Saya dibawa jalan-jalan sama air laut, kadang ke samping kanan kadang ke samping kiri, kadang ke tengah),&#8221; ungkap nenek Supiah kembali.</p>
<p>Hingga pada pukul 23.00 Kamis malam, beliau ditemukan oleh sekelompok nelayan sedang duduk diatas air. Pakaian dan tubuhnya tidak basah sama sekali. Subhanalloh masyaALLOH laa hawla walaa quwwata illa billah. Saya hanya bisa memuji ALLOH, Tuhan yang maha kuasa mengatur segalanya. Hal-hal ghaib memang ada di sekitar kita dan semuanya di bawah kendali ALLOH saja, sang Penguasa alam. Dalam ayat kursi (Al-Baqarah : 255) disebutkan bahwa</p>
<p>&#8220;Allah. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNYA. Tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi&#8221;</p>
<p>Ya, DIAlah ALLOH yang terus menerus mengurus mahluk-NYA. Setiap detik. Setiap saat. Dan DIA tidak mengantuk dan tidak pula tidur. Sungguh semuanya ada dalam gengaman kekuasaanNYA tanpa ada jeda waktu sesaatpun terlepas. DIA sungguh berkuasa atas segalaNYA. Maka saksikanlah ya ALLOH, bahwa saya telah bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali ENGKAU saja.</p>
<p>Supiah tinggal di Dusun Selorejo. Rumahnya berdinding kayu. Sumur yang ia punya masih pakai erekan ember. Sangat sederhana sekali. Supiah mengalami stress setelah ditinggal kawin lagi sama suaminya, pada saat ia masih muda dulu. Dua orang anaknya pun dibawa suaminya ke Maluku. Dan sekian lama dia berpisah dari suami dan kedua anaknya. Nyaris Supiah tak pernah bertemu dengan kedua anaknya yang kini tinggal di Maluku dan di Jayapura. Ia hidup sendiri bersama saudaranya saja. Suami dan kedua anaknya tak pernah menengok. Ia harus bergelut mencari makan sendirian. Dan rupanya rindu yang terpendam itu terus menghiasi relung hatinya. Sehingga terjadilah kejadian yang menghebohkan Kamis malam (7/5/2009).  Ia hanya ingin mencebur ke laut untuk sekedar mengurangi sakitnya rasa rindu. ALLOH Maha Adil dan Kuasa. Dikirimnya mahlukNYA untuk menghibur Supiah. DiperintahkanNYA ombak untuk menemani Supiah bermain di laut, mengenang masa lalu yang membahagiakan hatinya&#8230; Entahlah apa yang harus saya tulis untuk sekedar mengira-ngira apa yang sedang terjadi. Saya tak mampu. Saya larut dalam sedih membayangkan perasaan nenek Supiah. Tahukah kita apa yang sedang terjadi dengan perasaan perempuan &#8216;sakti&#8217; itu? Yang jelas beliau adalah juga manusia. Seperti kita. Punya rasa rindu. Dan punya hak untuk dirindukan. Dan tahukah anda bahwa rasa rindu itu pada mulanya terasa manis. Tapi setelah lama terendap, rasa rindu akan berubah menjadi pahit, pilu dan menyakitkan. Dan entah sudah terendap berapa tahun-kah rasa rindu di relung hati nenek Supiah untuk bertemu kedua anaknya. Saya beberapa kali menarik nafas menahan buliran air mata agar tidak keluar, membayangkannya. Hidung saya terasa mampet, penuh air. Dan beberapa tissue saya ambil untuk membersihkannya agar saya bisa bernafas lega. Masya ALLOH.. ampunilah dosa beliau ya Robb..</p>
<p>Beberapa kejadian ghaib sering kita dengar beberapa bulan terakhir. Anda tentu masih ingat Ponari. Dukun kecil yang juga dianggap sakti. Saya tertarik dengan tulisan Cak Nun di Tempo soal Ponari. Diakhir tulisannya beliau mengandai-andai ada suara ghaib yang membentaknya, &#8220;Ngurusi Ponari aja nggak becus! Mau sok-sok berlagak mengurusi NKRI!&#8221;. Sebuah kesan yang lain. Cak Nun mampu menghadirkan kesan yang lebih masuk logika dan hati. Dan kita patut merenungkannya. </p>
<p>Demikian pula dengan peristiwa nenek Supiah ini. Ada sebuah pelajaran yang harusnya bisa kita ambil. Sebagai hamba Tuhan yang mengakui segala kekuasaanNYA maka sudah seharusnya bagi kita untuk memujiNYA. Kejadian luar biasa yang keluar dari nalar kita harus kita sikapi sebagai bentuk dari turut campurnya Tuhan dengan kuasaNYA. DIA bisa saja membawa Supiah mengarungi lautan dengan ombak saja. Tanpa ada sehelai bajunya pun yang basah. Itu bukan hal mustahil walaupun terkesan di luar nalar kita. DIA saja yang berkuasa melakukannya kapan saja, dimana saja, pada siapa saja, atas kehendakNYA. Tapi tentunya DIAlah yang memegang kuasa itu. Bukan nenek Supiah. Maka jangan heran ketika anda besok datang ke rumah nenek Supiah dan meminta beliau untuk kembali berjalan di atas ombak, maka ternyata beliau tenggelam dan tidak bisa duduk tegak diatas air laut seperti malam itu. Karena itu adalah hak dan kekuasaan ALLOH saja. Dan kita tidak bisa meng-intervensi-nya. </p>
<p>Tentu ada tujuan ALLOH dibalik semua peristiwa yang dibuatNYA. Jelas ALLOH telah menghibur gundah nenek Supiah yang sangat kangen terhadap anak-anaknya dengan bermain di laut. Tapi tentu ada maksud yang lain, agar kita berfikir. Peristiwa ini tentu mendorong kita untuk mengetahui siapa nenek Supiah, tinggal dimana, keluarganya, daerahnya, rumahnya, pekerjaannya dan sebagainya. Semua media cetak maupun elektronik mencari tahu dan mengabarkannya pada kita. Ya, itu mungkin yang dikehendaki olehNYA. Agar kita mengetahui ada seorang nenek renta berumur 65 tahun tinggal dirumah yang berdinding kayu saja.  Mencari ranting kayu untuk menghidupi dirinya. Sebatang kara bergelut dengan  kebutuhan hidup. Tinggal di Dusun Selorejo Desa Temurejo yang terbelakang. Dan ia ternyata seperti dekat sekali dengan kita. Karena kita mengetahuinya. Ia ada dihadapan hidung kita. Ya, persis dihadapan kita. Kita yang hidup dengan uang yang cukup, menikmati segala kenikmatan hidup. Mulai dari makan yang bergiji. Nasi, daging, sayur, buah, susu, sop dan kue-kue yang enak rasanya. Makanan kita pun penuh gengsi. Mulai dari KFC, Pizza Hut, Mc D, Dunkin, Ayam Bakar Wong Solo, Bakmi Japos, sampai Starbuck. Rumah dan tempat tinggal kita berdinding batu bata dan beratap genting berplafon asbes. Tempat main kita selalu ber-AC. Mall, Hypermarket, Bisokop sampai club-club. Mainan kita pun mahal dan berteknologi tinggi. Komputer, Handphone, Internet, Laptop, Blackberry, sampai I-phone. Dan kita tak pernah berpikir dua kali untuk mengeluarkan ratusan ribu bahkan jutaan rupiah demi menikmati semua itu. Semuanya tak perlu kita timang-timang. Enjoy saja. Dan nalar kita membenarkan bahwa memang harusnya begitu. Tidak ada yang perlu dipikir lagi. Tapi ketika kita harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ada seseorang yang serupa nasibnya dengan nenek Supiah tinggal di sekitar kita, maka&#8230; &#8221; Ah limaribu rupiah sudah lebih dari cukup kayaknya.. &#8220;. Rupanya Tuhan sedang mengejek kita. Sudah berapa banyak peringatan Tuhan berikan, tapi tak mampu kita menangkap maksudnya. Sampai-sampai peristiwa menghebohkan harus DIA diperlihatkan agar kita sadar dan berpikir. Tuhan memaksa kita agar melihat &#8220;potret nyata&#8221; masyarakat di sekitar kita melalui peristiwa yang menghebohkan. Seolah-olah Tuhan berkata, &#8220;Hoooii..! Sini coba lihat. Ada nenek bisa duduk diatas laut. Sungguh menakjubkan. Tapi coba lihat dia sangat miskin. Sengsara dan sebatang kara. Hooiii&#8230;! Coba lihatlah sekitar kalian.. mungkin ada yang serupa nasib dengan nenek itu.. Hooiii coba lihatlah&#8230; !&#8221;</p>
<p>Peristiwa menghebohkan soal nenek Supiah harusnya menjadi teguran bagi para Pemimpin kita. Menjadi itikad nyata dari calon presiden kita. Menjadi tamparan bagi anggota DPR yang sering studi banding untuk &#8220;kemakmuran&#8221; rakyat. Menjadi sindiran bagi para Kiai yang berkecukupan dan bertarif mahal. Menjadi renungan bagi BAZIS yang mengumpulkan jutaan uang zakat. Dan menjadi renungan bagi kita semua. Kita hendaknya tidak larut dalam cemooh kurafat, tahayul, bidáh, sesat, musyrik dan segala caci maki berkedok agama soal peristiwa ini. Ini adalah pelajaran yang berharga. Ini adalah isyarat alam. Bahwa kita harus mulai menengok sekeliling kita dan berbagi. Bahwa para kiai harus mulai mengajari masyarakat tanpa pamrih agar tidak tumbuh subur kemusyrikan dan semua caci maki tadi. Bahwa &#8220;ustadz-ustadz selebriti&#8221; jangan cuma mengaji dengan artis-artis yang sanggup membayar tinggi. Bahwa Presiden harus mulai berbuat nyata dan bukan berorasi. Bahwa anggota DPR &#8230; bahwa Bupati&#8230; bahwa Camat&#8230; bahwa Lurah.. bahwa &#8230; Saya kehabisan kata-kata.  </p>
<p>Ya, inilah adalah isyarat alam. Ini adalah pertunjukan istimewa dari Tuhan untuk kita renungkan. Mudah-mudahan jiwa-jiwa kita masih cukup peka dan mampu menangkap isyarat alam tersebut. Isyarat-isyarat yang Tuhan berikan.</p>
<p>&#8220;Ya ayatuhan nafsu mut&#8217;mainnah irjiíi ilaa robbiki roodhiyatan mardiyyah. Fadkhuli fii íbadii fadkhuli jannatii&#8221;</p>
<p>&#8220;Hai jiwa-jiwa yang tenang.Kembalilah kepada Tuhamu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Masuklah ke dalam surgaKu&#8221; (QS Al-Fajr :27-30)&#8221;</p>
<p>ma&#8217;as salam,</p>
<p>muhid</p>
<p>sumber : <a title="berita1" href="http://surabaya.detik.com/read/2009/05/09/150405/1128755/475/supiah-mengaku-ke-tengah-laut-diajak-ombak" target="_blank">berita1</a> dan <a title="berita2" href="http://surabaya.detik.com/read/2009/05/09/165848/1128789/475/supiah-pernah-diculik-gendruwo" target="_blank">berita2</a></p>
<br />Posted in Opini  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhids.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhids.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhids.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhids.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhids.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhids.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhids.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhids.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhids.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhids.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhids.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhids.wordpress.com/169/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhids.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhids.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=169&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhids.wordpress.com/2009/05/09/isyarat-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f538186db007e7232cfec0083de58579?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">MUHID</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhids.files.wordpress.com/2009/05/neneksupiah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">neneksupiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kopi Pagi</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com/2009/05/08/kopi-pagi/</link>
		<comments>http://muhids.wordpress.com/2009/05/08/kopi-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 May 2009 08:14:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MUHID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Narasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhids.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Kopi pagi. Minuman yang sederhana. Diminum ketika masih ada uap yang timbul dari air panas di cangkir, sepertinya pas sekali. Warna hitam dari kopi rasanya tak perlu dicampur dengan warna putih susu atau krim. Biarkan memang begitulah warna aslinya. Tuangkan gula sedikit saja. Agar rasa pahit kopi tidak terlalu tercemar dengan rasa manis gula. Karena kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=239&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhids.files.wordpress.com/2009/05/kopi.jpg"><img class="size-full wp-image-328  alignleft" title="kopi" src="http://muhids.files.wordpress.com/2009/05/kopi.jpg?w=510" alt="kopi"   /></a>Kopi pagi. Minuman yang sederhana. Diminum ketika masih ada uap yang timbul dari air panas di cangkir, sepertinya pas sekali. Warna hitam dari kopi rasanya tak perlu dicampur dengan warna putih susu atau krim. Biarkan memang begitulah warna aslinya. Tuangkan gula sedikit saja. Agar rasa pahit kopi tidak terlalu tercemar dengan rasa manis gula. Karena kita sedang menikmati kopi dan bukan minum gula. Bunyi bibir yang menyentuh gelas dan air kopi panas, terdengar khas sekali. &#8220;Sruput.. hss..hh&#8221;. Mantap sekali.</p>
<p>Pagi hari weekend, ketika saya di rumah, istri saya selalu menawarkan kopi. Dan rasanya nikmat sekali. Paduan kopi dan gula yang pas. Rasa pahit kopi tidak terlalu dominan, tetapi juga tidak hilang oleh gula. Guratan uap yang timbul dari air panas di cangkir menuju udara membawa harum kopi yang enak. Saya suka menghirupnya dalam-dalam. Sering sengaja saya bawa keluar cangkir kopi dan satu buku, untuk menemani saya duduk di teras rumah menikmati suasana pagi. Sepoi dingin angin pagi sepertinya memang ikut mendukung secangkir kopi menjadi hidangan yang pas. Sambil membaca dan sesekali memperhatikan daun dari tanaman yang ditata rapih oleh istri saya, kopi menjadi menu yang menyenangkan. &#8220;Srupuut.. masyaALLOH alhamdulillah&#8230; subhanallohu wabihamdihi ádada kholkihi waridhoá nafsihi wamidada kalimatihi..&#8221; Demikian ucapan saya sekali-kali. Maha suci ALLOH dan segala puji bagi-NYA sebanyak ciptaanNYA, sekehandak ridhoNYA, dan sejumlah kalimatNYA. Satu pujian bagi Tuhan yang ikhlas diucapkan dengan kemampuan terbatas. Karena begitu banyak nikmat dari Tuhan. Dan sudah selayaknya tiap nikmat itu harus di-ucapkan kata pujian untukNYA. Dan entah berapa ratus juta nikmat yang kita terima pagi ini. Sehingga entah harus berapa kata pujian untuk Tuhan. Dan tak lama kemudian, anak dan istri saya datang menemani minum kopi. Sesekali Lintang, anak saya, minta disuapi kopi. &#8220;Ayah, coba deh.. minta kopinya..&#8221; Katanya</p>
<p>Menikmati kopi di pagi hari memang memberikan kenyamanan tersendiri. Apalagi diiringi dengan obrolan ngalor ngidul yang tak perlu kajian-kajian njlimet. Obrolan santai soal politik, soal hidup dan soal hal-hal ghaib. Saya, dulu sekali, melewatinya dengan teman kos di asrama mahasiswa di pagi hari setelah subuh sebelum berangkat kerja. Sekedar menghangatkan mesin pikiran, agar siap dibebani dengan segudang masalah yang harus diselesaikan setiap harinya. Pujian dan kalimat dzikir sesekali memang harus diucapkan dalam hati, agar kenyamanan di pagi hari semakin sempurna. Setengah jam menjadi waktu yang cukup untuk menikmati santai. Dan setelahnya, kita harus &#8216;rela&#8217; menarik nafas lagi menghadapi kehidupan nyata.</p>
<p>Kopi pagi menjadi hal yang menyenangkan juga sambil diisi obrolan dengan bahasa unik yang bisa dimengerti antara kita saja. Saya pernah melewatinya dengan seorang bapak dari Jawa, seorang welder, teman satu proyek. Beliau menikmati kopinya sambil merokok. Terlihat nikmat sekali. Saya yang kopi-nya saja sudah nikmat, apalagi si Bapak yang ditambah menu lain. Merokok misalnya.</p>
<p>&#8220;Pripun proyek meniko, Pak Muhid? Sampai kapan pedamelanipun?&#8221; kata beliau membuka obrolan</p>
<p>&#8220;Nggih kulo yo mboten uning niku, Pak. Kulo niki kan tiang alit mawon Pak. Mboten ngertos kalian perkoro puniko. Sami sareng panjenengan, nggih?&#8221;  kata saya sambil tersenyum</p>
<p>&#8220;Ah.. panjenengan niki saged mawon. Anging kulo niki gadah pitakonan teng panjenegan niki, tiang pundi aslinipun?&#8221; kata beliau lagi agak serius</p>
<p>&#8220;Kulo asli Cirebon, Pak&#8221; kata saya</p>
<p>&#8220;Ah, panjenengan niki pancene seneng guyon. Kulo mboten percoyo. Mesti panjenengan niki saking Njowo nggih? Njowone pundi, Pak?&#8221; Kata beliau sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Mboten Pak. Nggih kulo niki asli tiang Cirebon. Leres puniko.&#8221; kata saya meyakinkan beliau</p>
<p>&#8220;Ooo.. anging panjenengan puniko saged kromo yo. Bojonipun tiang pundi Pak?&#8221; Kata beliau lagi</p>
<p>Dan obrolan pun terus mengalir menghadirkan keakraban-nya sendiri. Sesekali kami tertawa. Saling memberikan cerita. Dan setengah jam menjadi waktu yang patut disyukuri karena kita mendapatkan kenyamanan didalamnya. Menikmati kopi, menikmati udara pagi, ngobrol kesana kemari, mengendurkan urat sayaf sebelum terbebani target kerja siang nanti.</p>
<p>Belasan tahun lalu, di pesantren tempat saya belajar, minum kopi di-&#8221;sunah&#8221;-kan oleh para kiai. Kopi membuat otak selalu bekerja. Ulama jaman dulu sering meminumnya pada saat belajar dan menghafal. Saya sendiri tidak menerima dan tidak pula menolak pendapat ini. Bagi saya, kopi adalah sama seperti nasi. Jenis makanan &amp; minuman yang halal tapi tidak boleh dikonsumsi berlebihan. Mubah saja. Boleh tapi jangan berlebihan.</p>
<p>Kopi menurut peneliti mengandung zat alkolid pahit tidak berbau yag disebut Kafein. Ditemukan oleh dr. Phillipe Sylvestre pada tahun 1685. Kandungan Kafein ini akan berbeda-beda pada jenis kopi bergantung pada pengolahannya. Sebut saja, dalam 30 mililiter kopi terkandung 40 miligram Kafein. Secangkir kopi, seperti di gambar, setara dengan 90 mililiter. Jadi Kafein yang terkandung dalam 1 cangkir kopi bisa mencapai  120 miligram. Sisi positif Kafein adalah menjadikan aliran pikiran lebih cepat dan jernih serta mengusir rasa kantuk dan lelah. Setelah mengkonsumsi Kafein, seseorang bisa meraih pencapaian intelektual yang lebih tinggi. Berkat kafein pula, aktivitas motorik dan stimulus panca indra jadi lebih lancar. Ini mungkin yang kemudian menjadi alasan di-sunah-kannya kopi oleh kiai saya. Di dunia komputer, kopi menduduki tempat yang penting. Kopi selalu menjadi hal yang wajib dilakukan sebelum kita melakukan paste. Untuk kalimat yang terakhir ini, anda tidak usah menanggapinya dengan serius. Karena itu hanya sebuah lelucon saja <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Disisi lain, menurut para peneliti, Kafein juga menyebabkan pengerasan dinding arteri yang bisa mengganggu kerja jantung. Kafein juga berpotensi menjadi candu yang mengkhawatirkan. Dosis Kafein yang mematikan, setara dengan 100 cangkir kopi. Atau lebih kurang 10 gram. Ini yang menyebabkan kopi menjadi menu yang terus dicurigai oleh para medis karena dikhawatirkan berdampak buruk pada kesehatan. Sangat disarankan untuk tidak meminum 100 cangkir kopi sekaligus. Ada juga yang kemudian menghubungkan kopi dengan sakit maag. Dan ada beberapa kalangan masyarakat meyakini kopi sebagai sajian yang special untuk para jin. Terutama dukun-dukun. Kopi pahit pekat tanpa gula kesukaan mereka. Saya belum bisa bener-bener percaya hal ini. Karena seumur-umur, saya belum pernah ngopi bersama para jin <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Menarik menikmati kopi. Menjadi hal yang menyenangkan karena kopi mempunyai sisi positif. Kopi menjadi media yang bisa menghadirkan rasa nyaman, keakraban, mengusir penat dan menu yang hangat di pagi hari. Namun sisi negatif dari kopi patut pula kita waspadai. Agar kopi tetap menjadi teman yang pas pada pagi hari. Segala sesuatu mempunyai takaran masing-masing. Jangan sampai kita berlebihan. Karena semua yang berlebihan akan cenderung menghasilkan dampak negatif pada diri kita. Sebagaimana Qur&#8217;an selalu mengingatkan dalam Surat Al-A&#8217;raf ayat 31,</p>
<p>“Makan dan minumlah dan janganlah kalian berbuat israf (berlebih-lebihan), sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf (berlebih-lebihan). “ (QS: Al-A’raaf: 31).</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bishowab</p>
<p>Ma&#8217;as salam</p>
<p>muhid</p>
<br />Posted in Narasi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhids.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhids.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhids.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhids.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhids.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhids.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhids.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhids.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhids.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhids.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhids.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhids.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhids.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhids.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=239&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhids.wordpress.com/2009/05/08/kopi-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f538186db007e7232cfec0083de58579?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">MUHID</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhids.files.wordpress.com/2009/05/kopi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kopi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waktu</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com/2009/03/22/waktu/</link>
		<comments>http://muhids.wordpress.com/2009/03/22/waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 18:30:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MUHID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhids.wordpress.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Waktu ini sempit saja. Satu jam berlalu cepat. Secepat laju menit yang berulang sampai 60 kali. Satu menit berlalu lebih cepat lagi. Ia layaknya laju detik yang berulang selama 60 kali saja. Dan hari tidak terasa lajunya. Karena kita tidak terlalu memperhatikannya. Kalau pun sempat kita perhatikan, ia hanya secepat laju jam yang berulang 24 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=294&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhids.files.wordpress.com/2009/03/jamdinding.jpg"><img class="size-full wp-image-313  alignleft" title="jamdinding" src="http://muhids.files.wordpress.com/2009/03/jamdinding.jpg?w=510" alt="jamdinding"   /></a>Waktu ini sempit saja. Satu jam berlalu cepat. Secepat laju menit yang berulang sampai 60 kali. Satu menit berlalu lebih cepat lagi. Ia layaknya laju detik yang berulang selama 60 kali saja. Dan hari tidak terasa lajunya. Karena kita tidak terlalu memperhatikannya. Kalau pun sempat kita perhatikan, ia hanya secepat laju jam yang berulang 24 kali. Ya, tak terlalu lama. Cepat dan tidak terasa. Semuanya tak berasa. Pekan lalu baru saja kita pergi ke mall, sekarang kita sudah di mall lagi. Pekan lalu kita sedang di kereta menuju kampung, tak terasa hari ini kita sedang berada di kereta yang sama menuju rumah. Pekan lalu baru saja kita selesai mengantar istri berbelanja di pasar, hari ini kita sedang merasakan panasnya pasar dan berdesakan dengan pedagang ditengah beceknya jalan. Sungguh, sepertinya kita sedang mengulang hal yang itu-itu saja. Hal yang sama, di tempat yang sama dan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sempit sekali dunia kita. Ya sungguh kita sedang berada di tempat yang itu-itu saja.</p>
<p>Mungkin anda bilang, &#8220;Ah tidak.. saya sangat dinamis. Hari ini saya di Jakarta, besok ke Surabaya, pekan depan ke Medan, pekan depannya lagi ke Bandung..&#8221; Seakan mencoba mengingkari kalimat terakhir pada paragraf pertama diatas. Ya, anda benar. Anda tidak sedang dalam satu tempat, tapi pada hakikatnya Anda sedang dalam kesempitan ruang dan waktu. Hari ini anda di Jakarta bertemu istri, besok anda ke Surabaya bertemu rekan bisnis. Pekan depan ke Medan site visit, dan pekan depannya ke Bandung untuk cek material. Dan 15 hari setelahnya anda kembali pulang ke Jakarta bertemu istri. Siklus anda mungkin agak panjang dari apa yg saya gambarkan di paragraf pertama. Tapi anda akan tersadar setelah 15 hari. Dan mulai mengamini, &#8220;Ya&#8230; baru kemarin saya di Jakarta bersama istri&#8230; hari ini saya sudah menuju Jakarta kembali&#8230;&#8221; Sempit sekali. Jakarta lagi.. Jakarta lagi&#8230;</p>
<p>Dan dari sekian banyak peran kita yang berbeda-beda, pada saatnya nanti kita pasti setuju bahwa sepertinya waktu sangat cepat berlalu. Baru saja kita merayakan Isra Mi&#8217;raj tahun lalu, hari ini kita sedang sibuk mencari pembicara untuk acara yang sama. Baru saja kita tiup terompet tahun baru bersama keluarga, hari ini kita sedang menghamburkan uang untuk membeli terompet yang sama. Baru saja beberapa bulan lalu kita men-transfer uang gaji kita buat keluarga, pada hari ini kita sedang berdesakan di Bus kota menuju money excahnge. Baru saja kita membagikan raport anak didik kita, malam ini kita sedang sibuk mengisi nilai di buku raport yang sama. Baru saja kita ganti oli motor kita 3 bulan yang lalu, kini kita sedang menuju ke bengkel yang sama untuk melakukan hal yang sama. Ah&#8230; masih sangat banyak kegiatan yang sejatinya kita ulang secara periodik. Dan itu tidak terasa. Sungguh kita sedang mengulang hal yang sama, ditempat yang sama dan dalam waktu yang tak terlalu lama.</p>
<p>Lalu apa istimewanya apa yang kita lakukan selama ini? Kita hanya melakukan itu-itu saja. Mengulang dan terus mengulangnya. Merasakan hal yang sama. Dan merasakannya kembali dalam waktu yang tak teralu lama. Kita pasti mengakuinya. Tetapi jarang sekali menyadarinya. Karena kita sudah menjadi roda yang terus berputar akibat gaya sentrifugal yang tercipta dari putaran itu sendiri. Kita tidak lagi mengendalikan putaran. Tetapi kita sudah dikendalikan oleh putaran. Dan itu putaran itu terus menerus memaksa kita untuk ikut berputar. Terus berputar.</p>
<p>Tulisan ini tidak akan diteruskan dengan pembahasan tentang apa yang harus kita lakukan dengan keadaan kita sekarang. Tidak juga akan membahas betapa &#8220;buruk&#8221;nya kita kalau sudah dikendalikan oleh putaran rutinitas. Tidak akan pula diteruskan dengan apa efek dari rutinitas kita dari berbagai segi. Tidak sama sekali. Tulisan ini hanya akan diteruskan dengan penyadaran bahwa betapa memang waktu cepat sekali berlalu. Dan juga penyadaran bahwa memang itu-itu sajalah kegiatan kita. Hanya sebuah penyadaran saja. Layaknya sekedar menekan tombol &#8216;pause&#8217; pada tape recorder untuk menghentikan alunan musik yang sedang kita dengar, hanya beberapa detik saja. Hanya mengajak kita untuk menyadari bahwa setelah sekian lama kita hidup, hanya itu-itu sajalah rutinitas kita. Tak lebih. Hanya soal panjang siklus saja yang berbeda, antara satu orang dan yang lainnya. Dan silahkan menerjemahkan sendiri apa yang bisa kita petik selanjutnya dari penyadaran ini.</p>
<p>salam,</p>
<p>muhid</p>
<br />Posted in Renungan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhids.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhids.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhids.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhids.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhids.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhids.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhids.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhids.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhids.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhids.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhids.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhids.wordpress.com/294/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhids.wordpress.com/294/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhids.wordpress.com/294/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=294&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhids.wordpress.com/2009/03/22/waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f538186db007e7232cfec0083de58579?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">MUHID</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhids.files.wordpress.com/2009/03/jamdinding.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jamdinding</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyatu dengan Alam</title>
		<link>http://muhids.wordpress.com/2009/03/02/menyatu-dengan-alam/</link>
		<comments>http://muhids.wordpress.com/2009/03/02/menyatu-dengan-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 19:23:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MUHID</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muhids.wordpress.com/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[Alam rupanya sedang menjadi tema kehidupan. Di kota-kota besar muncul banyak sekali rumah makan ber-tema-kan alam. Menarik perhatian dan laris sekali. Di depok di dalam kampus UI, ada rumah makan Mang Engking. Meja makan didesain menyerupai gubuk-gubuk panggung dengan meja setinggi 40cm, sangat pas untuk lesehan. Dibawah gubuk panggung tsb, terdapat kolam besar berisi ikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=288&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://muhids.files.wordpress.com/2009/03/sunset.jpg"><img class="size-full wp-image-300  alignleft" title="sunset" src="http://muhids.files.wordpress.com/2009/03/sunset.jpg?w=510" alt="sunset"   /></a>Alam rupanya sedang menjadi tema kehidupan. Di kota-kota besar muncul banyak sekali rumah makan ber-tema-kan alam. Menarik perhatian dan laris sekali. Di depok di dalam kampus UI, ada rumah makan Mang Engking. Meja makan didesain menyerupai gubuk-gubuk panggung dengan meja setinggi 40cm, sangat pas untuk lesehan. Dibawah gubuk panggung tsb, terdapat kolam besar berisi ikan mas yang besar-besar. Dari luar kita seperti melihta gubuk-gubuk di atas kolam ikan. Sekeliling rumah makan juga ditanami padi, cabe, dan beberapa kacang-kacangan. Terasa sangat asri walaupun tidak ada AC sama sekali.</p>
<p>Di kelapa dua -Depok juga- ada rumah makan Pondok Laras persis didesain dengan tema alam juga.  Ada rumah panggung terbuka dengan 4 meja makan setinggi 40cm untuk lesehan. Dibawah pangung juga ditanam ikan. Kran cuci tangan di balut bambu. Alami sekali. Tiap harinya akan terlihat mobil para pengunjung penuh parkir. Antusias sekali. Rumah makan-rumah makan tersebut menyajikan makanan khas daerah seperti sambil terasi, lalap, ikan mas bakar, dsb. Terpenting lagi suasana &#8216;damai&#8217; alam, yang mampu menjadi daya tarik pengunjung. Masih banyak  lagi tentunya rumah makan serupa di daerah Jakarta, Depok, Bandung dan sebagainya yang mampu menyedot minat para pengunjung.</p>
<p>Saya tidak sedang membicarakan rumah makan. Apatah lagi menu-menu yang ada di dalamnya. Yang sedang saya coba tulis adalah kecendurangan para pengunjung tersebut -mungkin juga kita- akan alam. Suasana alami, makanan alami dan tempat alami. Alam menjadi daya tarik tersendiri bagi manusia. Setelah penat kita bekerja sepertinya kita perlu suasana alami untuk refreshing. Kita seolah-olah ingin berada di tengah-tengah ribuan pohon rindang. Berada di bawah langit biru, menghisap udara segarnya, melihat hijau warna daun-daun, menikmati merah jingga warna bunga matahari, mendengar kicauan  burung dan merasakan belaian angin sepoi-sepoi. Ya suasana alam ini selalu kita rindukan.  Untuk mengobati lelah, meregangkan otot dan menyegarkan fikiran. Seolah-olah alam adalah obat. Dan seolah-olah alam adalah sebuah kenyamanan. Sehingga kebanyakan kita menyukai semua yang alami dan semua komposisi alam tersebut. Sebut saja angin, langit, hutan, sungai, danau, pohon, bulan, bintang, matahari, burung, padi, dan sebagainya. Dan ingin rasanya kita terus di tengah-tengah komposisi alam tersebut. Berbaur dengan mereka dan merasakan kehadiran mereka.</p>
<p>Tahukah kita semua bahwa  ada sesuatu yg tersembunyi dari alam? Mungkin diantara kita ada yang belum tahu. Atau bisa jadi kita sudah tahu tapi belum mengerti. Atau mungkin kita sudah mengerti tapi lupa. Tak menjadi masalah. Mari kita saling mengingatkan saja. Dalam Qurán surat As-Shaf ayat 1 disebut kan,</p>
<p>&#8220; Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana&#8221; (QS 61:1)</p>
<p>Ayat ini mengabarkan kepada kita bahwa semua yang ada di langit dan bumi bertasbih. Semua alam bertasbih. Angin bertasbih. Langit bertasbih. Hutan bertasbih. Sungai, danau, pohon, bulan, bintang, matahari, burung, padi, dan semua komponen alam lainnya bertasbih kepada ALLOH. Semua alam bertasbih kepada ALLOH. Mereka membaca subhanalloh, &#8220;maha suci ALLOH&#8221;. Mereka semua men-sucikan Tuhan. Ya, sungguh mereka sangat setia dan patuh mensucikan Tuhan setiap saat.</p>
<p>Ayat ini menjadi tautan dari Qurán surat Ar Rum ayat 17,</p>
<p>&#8220;Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh&#8221;" (Ar Ruum : 17).</p>
<p>Perintah bertasbih dalam Qurán surat Ar Rum :17  jelas ditujukan kepada kita, manusia. Bukan kepada Angin, Langit, Hutan, Bintang dan komponen alam lainnya. Dan dengan Qurán surat As-Shaf : 1, sepertinya ALLOH lebih memperjelas lagi perintah tersebut. Bahwasanya alam saja bertasbih kepadaNYA, apalagi manusia. Sepatutnya &#8221;lebih harus&#8221; bertasbih lagi. Karena begitu banyak nikmat yang diterima oleh manusia.  Dan alam raya pun diciptakan untuk melengkapi nikmat bagi sang manusia.</p>
<p>Tuhan sepertinya berusaha menghadirkan kenyataan bahwa memang seharusnya kita bertasbih. DIA mengabarkan bahwa semua, apa saja, yang ada di langit dan di bumi bertasbih. Lalu patutkan manusia tidak bertasbih? Tidak malu-kah kalau manusia tidak sempat bertasbih? Amat beratkah manusia, sekedar membaca &#8220;Subhanalloh..&#8221; Maha Suci Alloh&#8230;? Sementara Langit saja bertasbih. Gunung-gunung pun bertasbih. Laut bertasbih. Angin Bertasbih. Semuanya bertasbih.</p>
<p>Yang lebih pas lagi, perintah bertasbih tersebut disebutkan pada petang hari dan pagi hari (waktu subuh). Sungguh padanan yang bagus. Diwaktu itulah, alam menunjukan keindahannya. Petang hari, dimana matahari sedang beranjak menuju bagian waktu lain di bumi. Warna jingga tersisa di langit. Bola matahari berwarna merah ke-emas-an. Awan menghiasi langit. Angin bertiup sepoi. Dan kita, manusia, menyaksikanya dengan damai, indah, tenang dan senang. Penuh kekaguman.  Sebagian dari kita sengaja mencari momen ini di pantai. Di Laut lepas, sehingga nampak jelas sepertinya bola matahari yang merah ke-emas-an itu masuk ke perut air Laut yang berwarna kebiruan. Indah sekali dan mengagumkan. Dari kondisi itulah, seharusnya sangat mudah sekali kita bertasbih. Memuji dan mengingat kebesaran Tuhan. Sungguh Maha Suci ALLOH yang menciptakan alam yang indah. Akan sangat keterlaluan sekali, kalau manusia tidak sempat bertasbih pada petang hari. Apalagi mereka yang tahu dan mengerti bahwa Matahari, Angin, Awan, Langit, dan Laut tersebut sedang bertasbih.</p>
<p>Kemudian, pagi adalah waktu dimana keindahan alam-pun sedang terpancar. Matahari muncul dengan semburat cahaya kuning ke-emas-an. Pelan-pelan ia membentuk bulatan penuh dari perut bumi. Kicauan burung dan suara ayam mengiringinya. Angin pagi yang segar mengisi penuh rongga dada manusia. Melegakan paru-paru. Pohon-pohon melambai pelan. Burung-burung hinggap di dahannya, riang sekali. Dan lagi-lagi, kita manusia manikmati suasana ini dengan tenang dan senang. Sebagian diantara kita sengaja mencarinya di pantai. Agar bisa melihat sang matahari naik menuju langit dari dalam perut laut yang dalam. Dari kondisi itulah, sekali lagi, seharusnya sangat mudah sekali kita -manusia- bertasbih. Memuji dan mengingat kebesaran Tuhan. Sungguh Maha Suci ALLOH yang menciptakan alam yang indah. Dan sekali lagi, akan sangat keterlaluan sekali, kalau manusia tidak sempat bertasbih pada pagi hari. Apalagi mereka yang tahu dan mengerti bahwa Matahari, Angin, Awan, Langit, Burung, Ayam, Pohon dan Laut tersebut sedang bertasbih.</p>
<p>Maka dari itu, mari menyatu dengan alam. Merasakan keindahannya. Dan bersama-sama dengan mereka, bertasbih mensucikan Tuhan. Percayalah dan yakinlah bahwa ketika kita merasakan angin menyentuh dengan halus tubuh kita, sesungguhnya ia sedang bertasbih. Begitupun matahari. Ketika ia menyinari tubuh kita dan membentuk bayangan di tanah tempat kita berjalan, sesungguhnya ia sedang bertasbih. Sama halnya dengan burung yang terbang berkicau dan hinggap di ranting-ranting pohon. Sesungguhnya ia juga sedang bertasbih. Langit yang kebiru-biruan pun pada hakikatnya sedang bertasbih kepada Tuhan. Maka mari kita pun ikut bertasbih, berjamaáh bersama mereka, memuji Tuhan. Subhanalloh, Maha Suci ALLOH.</p>
<p>maás salam,</p>
<p>muhid</p>
<br />Posted in Renungan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/muhids.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/muhids.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/muhids.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/muhids.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/muhids.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/muhids.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/muhids.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/muhids.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/muhids.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/muhids.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/muhids.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/muhids.wordpress.com/288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/muhids.wordpress.com/288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/muhids.wordpress.com/288/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=muhids.wordpress.com&amp;blog=3088292&amp;post=288&amp;subd=muhids&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muhids.wordpress.com/2009/03/02/menyatu-dengan-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f538186db007e7232cfec0083de58579?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">MUHID</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://muhids.files.wordpress.com/2009/03/sunset.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sunset</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
